Selasa, 27 Desember 2016

Toleransi adalah....

 "Different is beautiful,like rainbow"




kebersamaan dg warga benteng none,NTT





              "gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo“ salah satu ungkapan jawa yang di gunakan untuk menggambarkan betapa kayanya alam Ibu Pertiwi dengan keadaan yang tentram dan damai. Ibu Pertiwi adalah salah satu Negara kepulauan yang memiliki keberagaman suku,bahasa dan ras serta golongan. Kebudayaan yang berbeda-beda di setiap daerah, keberagaman bahasa,adat istiadat. Di balik keberagaman dan damainya Ibu Pertiwi, haruslah tercipta toleransi antar sesama, toleransi sebagai sikap menghargai terhadap kemajemukan. Dengan kata lain sikap ini bukan saja untuk mengakui eksistensi dan hak-hak orang lain, bahkan lebih dari itu, terlibat dalam usaha mengetahui dan memahami adanya kemajemukan(Djohan Efendi). Dalam bahasa Inggris “tolerance” yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Sedangkan dalam bahasa Arab istilah ini merujuk kepada kata “tasamuh” yaitu saling mengizinkan atau saling memudahkan. ironisnya dilapangan banyak kita jumpai konflik-konflik yang berkebalikan dengan toleransi yaitu bersikap intoleransi(Tidak tenggang rasa).

             Seperti konflik pembakaran rumah ibadah di Tolikara,Papua Barat,Pembakaran gereja di Aceh Singkil, bom kuil Budha di kota Jakarta(7 Agustus 2013),pembakaran 50 rumah Warga Muslim Syiah di Madura. Tentunya masih banyak lagi kasus-kasus intoleransi di Ibu Pertiwi yang tidak di ketahui oleh masyarkat. Menurut http://www.koran-sindo.com edisi 10 Agustus 2016 bahwa kasus intoleransi tertinggi di Indonesia berada di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan survei yang di lakukan Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid, tingginya kasus intoleransi di Jawa Barat setidaknya dapat dilihat dari banyaknya pelaku bom bunuh diri yang tercatat asal Jawa Barat. Selain Jawa Barat, provinsi lain yang menempati urutan tertinggi kasus intoleransi yakni Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kesimpulan yang dapat saya ambil dari fenomena ini bahwa warga Indonesia masih kurang memiliki kesadaran untuk bertoleransi antar manusia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Ibu Pertiwi membutuhkan insan-insan yang berintegritas tinggi dan berkarakter serta berjiwa nasionalisme. Dengan integritas tinggi,karakter yang baik serta nasionlisme individu-indivu pasti akan bisa bersatu walaupun perebedaan begitu terasa mencolok.

              Seperti semboyan NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, walaupun bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang beraneka ragam namun keseluruhannya merupakan suatu persatuan. Indonesia yang berbeda-beda harus menjadi satu, agar tercapainya tujuan Indonesia, yang tertulis pada Pembukaan UUD ’45. Alinea Keempat, disebutkan bahwa “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial …”.

                Dasar inilah yang menggerakkan dan menyadarkan saya sebagai salah satu pemuda Indonesia untuk tetap mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif dan terus berperan aktif untuk NKRI. Sebulan lalu saya telah ikut berpartisipasi pada salah satu program pertukaran kebudayaan antara Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam Program Siswa Mengenal Nusantara yang di adakan oleh BUMN Hadir untuk Negeri. Banyak nilai kehidupan yang saya peroleh, dari aspek budaya sosial masyarakat bahkan butir-butir nilai religinya.Salah satu agenda kegiatan yaitu mengunjungi Suku Boti, Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Suku yang masih memegang teguh kepercayaan pada roh-roh leluhur atau animisme. Walau kami dari Jawa Tengah yang mayoritas muslim, kami di sambut dan di terima dengan baik. Saya merasa nyaman dan aman berada di sana walau perbedaan kami begitu mencolok. Ini adalah salah satu contoh tolerasi antar manusia, harapan saya dan teman-teman bahwa sikap toleransi bisa menjadi karakter yang sudah tertanam di setiap individu agar terwujudnya tujuan NKRI “melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Mari kita ikut bergerak aktif dengan suatu kesederhanan yang berdampak besar untuk menanamkan sikap toleransi.


Bertoleransi dalam perbedaan itu indah
mari kita menjadi satu walau kita berbeda suku 
"because,,different is beautiful"

Salam 

2019 Bengkel Las Listrik SANTIKA Semarang...

بسم الله الرحمن الرحيم


Bengkel Las Listrik SANTIKA/2019

Murah, tapi bukan murahan...
Berkualitas,  bukan hanya janji
Pesen gede,  diskon gede
On time,  sudah pasti...

Perlu bukti?
butuh testimoni?
hubungi kami dan buat transaksi,

jangan lewatkan kesempatan ini yg anda cari



"anda hubungi kami tanggap melayani 24 jam"

bisa juga menghubungi
https://www.facebook.com/SantikaBengkelkitapunya/


 NB:  untuk galeri gambar bisa di lihat di kantor langsung.
       :  mengerjakan sesuai pemesanan.
Nomor darurat 089668064082

jangan menyesal di kemudian hari,


salam