Minggu, 12 Februari 2017

Ayo! Jalan ke Surganya Indonesia

"Surga di Timur Indonesia" 


surganya Indonesia



          Nusa Tenggara Timur, satu provinsi yang di dalamnya tersimpan kedamaian surga dan kekayaan budaya. Salah satunya Pantai Kolbano, surga yang tersimpan di timur Indonesia. Terletak di desa Kolbano, kecamatan Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur, berjarak sekitar 90 km dari SoE (ibu kota kabupaten) dan 140 km dari Kupang (ibukota provinsi), sekitar 4 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi dari kota Kupang. Saat kata pantai terlintas, apa yang kebanyakan orang fikirkan ?, banyak yang beranggapan bahwa pantai identik dengan hamparan pasir di sertai ombak yang berlarian. Pantai Kolbano, pantai unik ini berbeda dengan pantai pada umumnya. Pantai dengan kilauan hamparan beribu batu langka, ada yang oval, prisma, bulat, lonjong, dan masih banyak lagi.

         Ukurannya pun bervariasi,menarik dan unik. Salah satu hal yang paling menarik dan luar biasa adalah warna-warni batuan tersebut yang langka di temukan. Mencari batu cantik yang memiliki warna-warni unik tentunya hanya bisa di temukan di Pantai Kolbano, warna merah muda(pink),cokelat,abu-abu kehijauan,peach dan masih banyak warna lainnya yang membuat gradasi cantik. Maka tidak jarang wisatawan menyebut Pantai Kolbano sebagai pantai kerikil seribu warna.Tidak hanya sebagai tempat melepas penat dan lelah, banyak wisatawan yang berkunjung hanya untuk mengoleksi kerikil berwarna ataupun di pakai sebagai penghias rumah, penghias akuarium dan mempercantik taman. Kerikil yang unik dari Pantai Kolbano dimanfaatkan penduduk setempat sejak tahun 1971, cukup terkenal dan sudah di kirim keberbagai daerah. Berdasarkan hasil percakapan saya dengan tour leader saat berkunjung di Pantai Kolbano, yaitu bapak Pae Nope, bahwa kerikil cantik pantai kolbano sudah di ekspor sampai ke Jepang. Hal ini membuat saya semakin terpesona serta bangga menjadi bagian dari Indonesia. Tentunya semakin membuat saya khawatir akan terjadinya pemberdayaan kerikil warna dengan kurang bijak.                         
                  Pemberdayaan kerikil cantik di Pantai Kolbano harus sebijak mungkin, untuk mencegah kerusakan wajah pantai Kolbano. Dengan menaati UU No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup,menyatakan bahwa lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Pemberdayakan kerikil warna akan membantu masyrakat dalam sektor perekonomian, tetapi apabila dilakukan dengan tidak bijak maka pemerintah harus tegas untuk menegakkan peraturan. Ditegakkannya peraturan agar tidak memperdayakan kerikil warna secara berlebihan, merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kebersihan,keindahan dan kecantikan surga Pantai Kolbano. Keindahan,kebersihan dan keasrian Pantai Kolbano menjadi keistimewaan yang membawa setiap wisatawan merasakan surga di timur Indonesia. Hamparan kerikil cantik yang memikat hati seperti permadani yang terbentang. Dimana pantai ini masih sangat asri dan alami serta menyajikan pesona pantai yang sangat indah mempesona mata setiap wisatawan.
                       Pantai Kolbano menjanjikan satu kemewahan karena Pantai ini termasuk wilayah terluar Indonesia dan berada di bibir laut Timor serta Samudera Hindia yang langsung berhadapan dengan kota Darwin, Australia.Tidak hanya pesona di siang hari yang memikat mata, disaat malam haripun mata wisatawan masih tetap di manjakan dengan kemewahan dan cantiknya gemerlap lampu kota Darwin, Australia. Bentangan kerikil warna yang cantik serta ombak yang cukup keras merupakan tempat sempurna untuk memanjakan mata dan menyejukkan pikiran, di tambah hanya dengan satu tempat maka wisatawan dapat melihat matahari terbit dan langit yang memerah disaat matahari terbenam di kala senja. Surga di Timur Indonesia yang satu ini tidaklah kehabisan pesonanya. Selain bentangan kerikil warna yang cantik, pantai kolbano memiliki daya tarik yang luar biasa dan tentunya tidak akan bisa di jumpai di tempat wisata lain.
                Fatu Un namanya, dalam bahasa setempat Fatu berarti batu dan Un yaitu manusia. Batu karang raksasa yang berdiri tegak diselimuti rerumputan dan tanaman perdu serta memiliki bentuk yang istimewa menyerupai kepala singa, begitu cantiknya Fatu Un melengkapi megahnya deburan ombak yang berlarian . Menambah ketakjuban wisatawan yang pertama kali melihat secara langsung dan mencoba untuk menaklukkan puncak Fatu Un yang tingginya sekitar 50 m .Pantai Kolbano Semakin menunjukkan keeksotisannya kepada wisatawan dengan sajian dari puncak Fatu Un. Memang tidaklah mudah untuk mendaki puncak Fatu Un, dengan permukaan batu yang licin,terjal dan cukup rapuh. Dibutuhkan kehati-hatian dan keberanian untuk mendaki Fatu Un, tetapi semua usaha dan kerja keras untuk mendaki Fatu Un akan terbayar setelah sampai pada setengah puncak dan akan terasa luar biasa apabila sampai pada puncaknya.
                      Terdapat hadiah istimewa yang di janjikan dan di sediakan puncak Fatu Un, lukisan laut bersih dengan gradasi biru muda jernih hingga kilauan biru tua membentang luas dengan tepinya di hiasi hamparan mempesona batuan unik warna yang cantik. Di tambah dengan panorama deretan bukit kapur yang terlihat dari kejahuan dan semilir kesejukan pepohonan di tepi pantai yang rindang. Banyak fotografer yang datang dan berniat mendaki Fatu Un, untuk mendapatkan potret serta momen cantik surga di timur Indonesia. Selain panoramanya yang memikat, pantai Kolbano juga memilki sisi lain yang melekat erat, desa Kolbano memiliki sebuah ‘Mite’ (cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh yang empunya cerita) yang cukup terkenal di bumi TTS dan Timor umumnya. Kisah “Bi Kabin” menjadi mite (mitos) yang sudah ada sejak berabad lalu bahwa seorang gadis cantik bernama Bi Kabin menikah dengan Na’ Besimnasi(seekor buaya) yang dipercaya sebagai Raja Laut.
                            Pernikahan itu telah di restui oleh keluarga Bi Kabin dan di perkirakan pernikahan ini terjadi sekitar akhir tahun 1700 atau awal 1800. Konon pada jaman dahulu, untuk menjaga kelestarian alam dan hubungan kekerabatan dengan Na’ Besimnasi, keluarga Bi Kabin bersama warga desa selalu melakukan ritual tahunan tertentu di pantai ini. Sebagai ucapan terimakasih dari sang Raja Laut, pantai Kolbano selalu dilimpahi berjuta-juta ekor ikan Nipi (ikan kecil mulut panjang) ke bibir pantai Kolbano dan bisa diambil oleh seluruh warga tanpa menggunakan alat tangkap. Mite ini menjadi oleh-oleh bagi para wisatawan mengenai kisah yang pernah terjadi di pantai Kolbano. Mite ini pula yang semakin menambah kekayaan alam pantai Kolbano dan di sisi lain kecantikan warna-warni hamparan batuan yang luar biasa di lengkapi dengan Fatu Un dengan puncaknya yang mempesona.
                          Menjadi ketenangan serta membayar semua kerja keras setiap wisatawan yang telah berusaha untuk menginjakkan kaki di Pantai Kolbano. Satu hal lagi yang perlu di ingat bahwa kecantikan yang tersimpan di pantai Kolbano tiada duanya atau bisa di katakana hanya akan di temukan di Nusa Tenggara Timur. Tidak hanya cantik dan bersih ternyata surga timur ini juga membawa manfaat bagi masyarakatnya. Dalam sektor pangan, pantai Kolbano juga terkenal sebagai penghasil ikan di Timor Tengah Selatan (TTS). Di saat persediaan maupun pasokan ikan di Kupang menurun, ikan-ikan Kolbanolah yang menjadi andalan untuk pemenuhan kebutuhan ikan di SoE. Pemberdayaan ikan yang di lakukan oleh nelayan masih dengan pola tradisonal atau cara sederhana serta peralatan yang seadanya. Kurang ramahnya Perairan pantai selatan Timor yang langsung terhubung dengan Samudera Indonesia menjadi salah satu faktor kurang berkembangnya sistem penangkapan ikan di Timor Tengah Selatan (TTS). Selain faktor ini, para nelayan yang tidak memiliki pengetahuan serta keterampilan melaut yang memadai.
                 Nelayan hanya bisa menangkap ikan atau melaut dengan menggunakan sampan-sampan kecil dan hanya bisa pada zona aman. Walaupun pada beberapa tahun ini di daerah Timor Tengah Selatan (TTS) sudah di dirikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang mempelajari perikanan, tetapi hal ini belum memberi kebermanfaatan yang signifikan dalam bidang peningkatan pengolahan maupun penangkapan ikan di Timor Tengah Selatan (TTS). Tentunya penting untuk mengembangkan serta melestarikan kekayaan alam Indonesia, khususnya tempat tertentu yang belum/jarang tersentuh tangan manusia. Sama halnya untuk mengembangkan Pantai Kolbano, di butuhkan partisipasi dari berbagai pihak . Partisipasi masyarakat yang terus mengupayakan pengembangan aksesbilitas, pembangunan infrastruktur/sarana pariwisata dan tentunya turun tangan masyarakat untuk melestarikan kebersihan dan kecantikan pantai Kolbnao.
                       Tidak hanya partisipasi masyarakat, semuanya harus di dukung dengan peran maupun dukungan pemerintah. Penegakkan peraturan dengan tegas dan adil, dengan tujuan menjaga kelestarian alam. Hal yang mendasar yaitu masyarakat harus memiliki kesadaran untuk menjaga alam dengan hati dan tidak kalah penting bahwa semua sektor pengelola wisata harus memiliki profesionalisme serta integritas yang baik untuk mengembangkan Pantai Kolbano. Beralih pada aspek peninggalan sejarah bahwa pada 26 Oktober 1907 menjadi tanggal bersejarah bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur khususnya Kolbano, mereka yang terkenal idealis sudah berani melawan penindasan Belanda. 3 orang pahlawan bangsa yang mengambil bagian dalam cerita heroik “Perang Kolbano” beliau adalah Boy Kapitan (Boy Boimau), Pehe Neolaka dan Esa Taneo, telah berhasil menumpas pasukan Belanda. Membela tanha air sampai titik darah penghabisan.Tidak di sangka, surga yang begitu damai ternyata menyimpan fakta yang menjadi salah satu peninggalan bersejarah dan penghias kronologi perjuangan rakyat Timor Tengah Selatan (TTS) dalam melawan penjajahan merebut kebenaran.
                          Sebagai penghargaan maka satu tahun setelah berkobarnya “perang kolbano” atau pada tahun 1908, pemerintah Belanda membangun tugu peringatan perang kolbano 1907. Begitu kaya akan cerita yang menjadi fakta perjuangan, sama kayanya dengan cita rasa berbagai kuliner khas Nusa Tenggara Timur. Akan semakin luar biasa jika mengenal dan mencoba keistimewaan kuliner di Nusa Tenggara Timur. Makanan khas yang pertama kali saya santap saat saya berkunjung di Nusa Tenggara Timur yaitu jagung bose. Jagung bose memiliki komposisi yang kaya nutrisi seperti biji Jagung, kacang tanah, dan kacang merah/kacang nasi. Rasanya yang unik seperti nasi dan kuahnya sangat kental, saat sampai di mulut rasanyapun menarik. Jagung bose di pulau Timor di jadikan sebagai pengganti nasi yang biasanya di masak dengan santan.
                         Memerlukan waktu yang cukup lama untuk memasaknya, menyajikan jagung bose biasanya dalam rangka menyambut tamu ataupun merayakan sebuah perayaan. Cita rasa keunikan jagung bose tidak lengakap jika tidak di tambah daging se’i sapi yang lezat. Daging se’i sapi yaitu daging sapi yang di asap kemudian di tumis dengan bunga papaya. Kelezatan yang tiada tandingannya, daging se’i sapi mendapat aroma lezat dari serangkaian pengasapannya. Menurut adat Timor, jagung bose di tambah dengan daging se’i sapi akan menjadi makanan terlarang/pantangan, apabila tidak di damping dengan lawar ikan. Lawar ikan dibuat dari ikan teri segar yang masih mentah. Cukup 10 menit di rendam air cuka kemudian dibumbui irisan bawang merah,cabai,garam,dan perasan jeruk nipis. Santapan khas yang unik,menarik dan bernutrisi. Tidak hanya itu, masih banyak potensi yang bisa di gali dan terus di kembangkan, keberlimpahan lontar atau siwalan dan asam. 2 komoditas yang berlimpah di Kolbano, dan tentunya harus di kelola dengan serius.
                    Keseriusan dari berbagai pihak untuk mengembangkan lontar maupun asam akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan akan megurangi pengangguran. Pohon lontar yang hampir mirip dengan pohon palem, memiliki buah seperti kelapa yang berbentuk bulat dengan warna hitam keunguan manggis dengan daging buah yang manis mirip rambutan. Banyak masyarakat timur yang mengolah pohon lontar/siwalan untuk di jadikan minuma segar. Salah satunya olahan tuak manis, tuak manis berasal dari nira (cairan yang dihasilkan pohon lontar) yang belum mengalami fermentasi sehingga rasanya manis dan segar. Karena tidak mengandung alkohol maka minuman segar yang satu ini bisa di konsumsi oleh siapa saja dan akan terasa istimewa jika di minum di bawah terik matahari saat musim panas. Tidak jauh berbeda dengan buah pohon lontar/buah siwalan, Nusa Tenggara Timur juga terkenal dengan pohon tambaring. Pohon tambaring atau asam timor memiliki banyak manfaat, dari buah yang masih mentah sampai matang dan daunnya.
                     Buah yang masih mentah biasanya di campur dengan garam dan cabai, sensasi rasa yang luar biasa tidak akan pernah bisa di temukan di tempat lain. Biasanya buah tambaring di jadikan bumbu dapur dengan mengupas dan mengeluarkan bijinya, lalu di bentuk bulatan bola kecil, terkadang juga di olah untuk manisan. Semua yang Tuhan anugerahkan kepada manusia harus selalu di syukuri dan di lestarikan. Menjaga dan mengembangkan alam dengan ikhlas. Selalu mengkaji dan mengenalkan alam kepada masyarakat luas merupakan salah satu cara mengembangkan potensi wisata alam. Tidak hanya mengenalkan saja, tetapi ikut memonitoring perkembangan. Surga timur yang begitu damai, harus di lindungi dan terus di dukung oleh semua pihak.
                      Kolbano yang sejuk harus selalu di teriakkan kepada masyarakat luas baik nasional maupun internasionl. Pemerintah terus bergerilya untuk berperan memajukan potensi wisata di Indonesia, salah satu caranya dengan menyelenggarakan berbagai ajang kopetensi yang menyangkut pariwisata di Indonesia. Pantai Kolbano dan objek wisata yang belum berkembang harus memiliki nasib yang sama dengan objek wisata Indonesia yang terkemuka ,layaknya raja ampat,pantai kuta,bunaken, taman nasional komodo dan masih banyak lagi. Panorama yang indah layaknya surga dunia dan di hiasi dengan banyak kronologi sejarah. Di lengkapi beragamnya cita rasa kuliner yang istimewa dan wajib di coba.
              Semua adalah bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Indonesia tanah air dan tanah kelahiran kita. Tidak menjadi masalah, di mana kita dilahirkan, apakah di barat,tengah, atapun di timur Indonesia. Kita adalah Indonesia, bagian barat milik kita, begitu pula bagian tengah dan timur. Milik kita semua, kita yang wajib menjaga dan terus berupaya mengembangankan alam. Pantai Kolbano adalah satu dari banyaknya surga di alam Indonesia.



Bangga menjadi bagian dari INDONESIA

Ayo!!! makmurkan alam Indonesia dengan bijak

Salam