![]() |
| pergizi.org |
Diterangkan Menkes Nila Moeloek, kesehatan berada di hilir. Seringkali
masalah-masalah non kesehatan menjadi akar dari masalah stunting, baik
itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya
pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan. Karena itu,
ditegaskan oleh Menkes, kesehatan membutuhkan peran semua sektor dan
tatanan masyarakat.
1) Pola Makan
Masalah stunting
dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan
kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.
Istilah ''Isi
Piringku'' dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam
kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi
oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik
nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.
2) Pola Asuh
Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.
Dimulai
dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai
cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi
kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan
kandungan empat kali selama kehamilan.
Bersalin di fasilitas
kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi
mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai
bayi berusia 6 bulan.
Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai
usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa
pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap
bulan.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah
hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi
yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah.
Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau
Puskesmas.
3) Sanitasi dan Akses Air Bersih Rendahnya akses
terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi
dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi.
Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir,
serta tidak buang air besar sembarangan.
''Pola asuh dan status
gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) maka,
dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya. Karena itu, edukasi
diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada
peningkatan kesehatan gizi atau ibu dan anaknya'', tutupnya.
http://www.depkes.go.id/article/view/18040700002/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2-.html
