| Nusantara diatas langit oleh Roro Susanti |
Djakarta adalah Ibu
Kota Indonesia sejak zaman Penjajahan Jepang yang semula bernama Batavia, sejak
saat itu sampai sekarang Jakarta berkembang pesat menjadi pusat segala
aktivitas sektor kehidupan rakayat Indonesia. Majunya semua sektor baik pendidikan,
jasa, keuangan, infrastruktur, budaya, sosial, ekonomi, bisnis menjadikan kemudahan
mampu didapat. Hal ini pula yang menjadikan banyak orang yang berlomba-lomba merantau,
imigrasi dan menetap di ibu kota. Dibalik kemajuan Ibu Kota Jakarta, ternyata
menyimpan banyak permasalahan yang harus segera terselesaikan, mulai dari
krisis air bersih, kemacetan, polusi, rawan banjir, tingginya pertumbuhan urbanisasi, penurunan muka tanah, naiknya muka
air laut dan permasalahan lain yang tidak mampu
disebut satu
per satu.
Permasalahan ini yang
menjadikan meningkatnya beban Jakarta sehingga terjadi penurunan daya dukung
lingkungan yang mengakibatkan kerugian pada beberapa sektor. Hal ini yang
mendasari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menghendaki pembangunan ibu kota baru dilokasi yang memenuhi syarat dan mengutus Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro mengkaji pembangunan
ibu kota baru secara teliti. Sampai saat ini pembangunan ibu kota baru sudah di
pastikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo akan berpindah ke pulau
Kalimantan, pulau yang memenuhi standar ibu kota baru.
Hasil kajian dari PPN
bahwa Ibu Kota Baru akan didesain dengan pendekatan Forest City, Smart, Green, Beautiful
and Sustainable. Harapanya, Ibu Kota Baru yang modern berstandar internasional
mampu mewujudkan Indonesia sentris dan mampu menjadi kota ideal untuk di jadikan
kota percontohan. Indonesia sentris mampu menjadi langkah untuk mengembangkan
pulau di luar jawa, meningkatkan produktivitas, mensukseskan pemerataan, mengkonektivitaskan
antar pulau, antar provinsi dan antar masyarakat agar tidak terjadi lagi kesenjangan.
Harapan PPN dan para
pemimpin bangsa ini untuk ibu kota baru sejalan dengan apa yang saya harapkan. Harapan
saya untuk ibu kota Indonesia yang baru dapat saya tarik garis besar menjadi :
1.
Transportasi Ramah, Smart
dan Hemat.
Belajar dari Jakarta yang berkutat pada permasalah kemacetan
yang menimbulkan kerugian hingga 65 triliun, belum lagi meningkatnya
polusi udara. Maka ibu kota baru harus bisa menerapkan sistem pengelolaan
transportasi yang baik. Mengumpulkan para ahli dalam bidang teknik otomotif dan
transportasi untuk membangun MRT (Moda Raya Terpadu) tanpa awak yang bersumber
tenaga uap, angin atau bahan baku aman yang tersedia melimpah (sampah plastik,
biodiesel) sebagai transportasi umum utama yang smart dan ramah lingkungan. Meniadakan
atau membatasi BRT (Bus Rapid Transit) atau jenis
transportasi umum lainya demi mengurangi penggunaan BBM Bahan Bakar Minyak dan mengurangi
produksi polusi udara. Bahkan mengeluarkan Undang-Undang mengenai jadwal
penggunaan alat transportasi pribadi bisa menjadi upaya untuk mengurangi
pencemaran lingkungan dan kemacetan.
2.
Membangun Hutan
Konservasi Berwawasan Cendekia dan Pariwisata.
Salah satu tema untuk ibu kota baru yaitu Forest City. Saya berharap ibu kota baru bergaya modern yang berstandar
Internasional namun tidak menghilangkan lahan untuk pengawetan keanekaragaman
tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yaitu dengan pembangunan hutan konservasi
yang terdiri dari kawasan suaka alam (cagar alam, suaka margasatwa) dan kawasan
pelestarian hutan (Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Wisata Alam).
Harapan saya ke-2 kawasan ini tidak hanya sebagai lahan pengawet keanekargaaman
flora dan fauna endemik Kalimantan. Namun, hutan konservasi ini didesain juga untuk
pengawetan keanekaragaman flora dan fauna dari provinsi lain yang ada di
Indonesia dengan di rancangnya konsep hutan konservasi yang berwawasan cendekia
dan pariwisata. Artinya, hutan konservasi ini di bangun dengan konsep pendidikan dan
pariwisata. Hutan konservasi ini di lengkapi dengan layanan yang mendukung agar
para pelajar maupun peneliti dari provinsi lain dan mancanegara mampu menggali
ilmu hayati dan keanekaragaman. Pada wawasan pariwisata, harapannya hutan
konservasi ini di desain secantik mungkin dan mampu menjadi hutan yang eksotis
sehingga mampu menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bisa saja
kita desain seperti taman nasional Tijuca-Brazil, cagar alam Tsingy de
Bemaraha-Madagaskar dan seperti hutan Amazon-Brazil. Pemberdayaan kecantikan
alam yang sudah tersedia seperti sumber mata air, air terjun, sungai. Pemberdayaan
tempat-tempat ini mampu membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
3.
Membangun Lembaga
Pendidikan Standar Internasional Berkonsep Sustainable Development Goals.
Harapan saya ke-3 merupakan harapan agar Indonesia
memiliki peran besar dalam Sustainable Development Goals demi mewujudkan
cita-cita global yaitu mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan
melindungi lingkungan yang diharapkan dapat dicapai tahun 2030. SDGs memiliki
17 tujuan dan 169 target, selaras dengan hal ini maka harapan saya lembaga
pendidikan miliki pemerintah ini membuka 17 jurusan yang masing-masing jurusan
berfokus pada 1 tujuan dari 17 tujuan SDGs. Lembaga
pendidikan berstandar internasional ini mampu menjadi wadah bagi bibit unggul bangsa
untuk ditempa agar terlatih memecahkan permasalahan dalam negeri maupun pada
tingkat global selain itu harapanya tempat ini mampu melahirkan pemimpin yang
berkarakter baik, berintegritas dan kritis.
Banyak harapan yang saya panjatkan kepada Tuhan untuk kemajuan tanah airku
Indonesia, secara garis besar terangkum dalam 3 harapan ini. Saya yakin jika
harapan ini mampu terwujud, pasti visi kebutuhan Indonesia kedepan akan
terwujud yaitu menuju Indonesia sentris.
“Bangsa yang besar mewujudkan cita-cita bersama dengan kekuatan anak
bangsa yang bersatu dengan penuh tanggung jawab tindakan dan kepekaan hati”.
@bappenasri
@kantorstafpresiden
#Bappenas
#IbuKotaBaru
#SahabatPembangunan







